Otoholic – Marc Marquez mengaku Sprint MotoGP Inggris 2026 di Silverstone menjadi salah satu balapan paling sulit yang ia jalani musim ini. Pembalap Ducati Lenovo Team itu mengatakan dirinya hanya bisa bertahan hingga finis setelah performa ban belakang terus menurun sejak awal balapan.
Marquez memulai Sprint dari posisi keenam dan sempat menunjukkan kecepatan yang menjanjikan. Pada lap pembuka ia berhasil naik ke posisi empat setelah melewati Marco Bezzecchi. Namun situasi berubah drastis ketika grip ban belakang mulai hilang pada pertengahan balapan.
Pembalap bernomor 93 tersebut akhirnya harus merelakan posisinya direbut satu per satu oleh para rival. Dari sempat berada di kelompok depan, Marquez terus melorot hingga finis di urutan kesembilan.
Menurut Marquez, masalah ban sudah terasa sejak beberapa lap awal. Setelah menyadari bahwa performa motornya tidak memungkinkan untuk mengejar pembalap di depan, ia memutuskan mengubah target balapan.
Alih-alih memaksakan diri menyerang, Marquez memilih menjaga ritme dan mengamankan poin yang masih bisa diraih. Baginya, mengambil risiko besar dalam kondisi ban yang terus memburuk hanya akan membuka peluang terjadinya kesalahan atau gagal finis.
Strategi bertahan itu memang membuatnya kehilangan banyak posisi, tetapi setidaknya Ducati tetap membawa pulang poin dari Sprint. Hasil tersebut tetap menjadi pukulan karena Aprilia tampil sangat dominan di Silverstone, dengan Jorge Martin keluar sebagai pemenang Sprint.
Balapan di Silverstone juga memperlihatkan bahwa Ducati tidak lagi sekuat musim lalu di sirkuit tersebut. Aprilia mampu memanfaatkan karakter lintasan dengan lebih baik, terutama dalam menjaga kecepatan di tikungan dan mengelola degradasi ban.
Bagi Marquez, hasil Sprint menjadi sinyal bahwa pekerjaan rumah Ducati belum selesai. Ia berharap tim bisa menemukan solusi yang lebih baik untuk balapan utama agar masalah ban tidak kembali menghambat performanya.
Meski kecewa, Marquez menegaskan bahwa mengamankan poin tetap lebih penting dibanding memaksakan diri mengejar posisi yang sulit dipertahankan. Dalam kondisi tersebut, Sprint Silverstone berubah menjadi balapan bertahan hidup, bukan lagi balapan untuk menyerang.
